Old Trafford, Minggu, 12 Mei 2013. Ini adalah malam yang benar-benar emosional untuk Sir Alex Ferguson, untuk ofisial, pemain dan penggemar Machester United. Malam yang akan dikenang sebagai malam yang haru-biru untuk semua praktisi sepak bola.
United sudah juara. Malam ini, trofi ke-13 Ferguson, trofi ke-13
Premier League buat United, trofi ke-20 skuad Setan Merah itu,
diserahkan di Old Trafford usai United vs Swansea—partai yang tidak
memberi pengaruh apa-apa untuk trofi terakhir Fergie.
Tapi, partai ini akan menjadi sangat emosional. Ini adalah aksi dan
kontribusi terakhir Fergie di Old Trafford, partai yang ke-1499 Fergie
dari total 1500 partai yang akan dilakoni dalam hampir 27 tahun karir
manajerialnya bersama United.
Tidak
ada perpisahan resmi yang diset-up oleh keluarga Malcom Glazer, meski
dia akan hadir malam nanti.Tapi antusiasme dan respons pecinta United,
pecinta sepakbola dan pengagum Fergie sungguh luar biasa.
Kita bisa membayangkan seperti apa moment mengharukan yang akan
muncul malaam ini di Old Trafford: menyaksikan seorang Fergie beraksi —
duduk-berdiri-berjalan dengan tangan di kantong dan dengan bahasa
tubuhnya yang khas.
Kita bisa membayangkan seperti apa kerinduan yang akan menari-nari
ketika kita melihat Fergie, sambil mengunyah permen karetnya, berjalan
menghampiri fourth-official, melancarkan protes dengan muka merahnya
itu.
Itu semua, antara lain, akan menjadi tontonan terakhir di Old
Trafford. Dan setelah itu, setelah trofi diserahkan, setelah Fergie –
yang dipastikan akan terbata-bata— menyampaikan pidato perpisahan di Old
Trafford, Fergie tidak ada lagi di bench United di Old Trafford.
Ya, Fergie, yang 19 Mei nanti memerankan tugas terakhirnya di markas
West Brown, pensiun. Si Opa mundur di puncak masa jayanya dengan sederet
trofi, dengan sejumlah rekor, dengan setumpuk catatan yang penuh warna.
Senin besok, Fergie bersama skuad dan semua jajaran yang begitu lama
bahu membahu, akan keliling kota Manchester. Bayangkan juga seperti apa
haru-birunya orang-orang di Manchester menyaksikan parade juara
sekaligus parade perpisahan ini.
Saya lumayan lama menggeluti sepakbola dengan segala riuh-rendahnya.
Dalam banyak level, di manca Negara. Tapi sepekan terakhir saya
benar-benar merasakan tidak ada cerita sepakbola yang jauh lebih epic
selain keputusan pensiun Fergie.

Dan keputusan itu, suka atau tidak, adalah sesuatu yang menghadirkan
banyak hal juga. Next-season sangat mungkin Premier League kehilangan
gairah persaingan ketika aksi, kontribusi dan komentar-komentar pedas
Fergie tidak ada lagi.
Fergie mundur, pergi dengan meninggalkan beban untuk Moyes. Dan, next
season kita juga menanti seperti apa Moyes melakoni hari-harinya yang
under-pressure bersama United dan harus keluar dari bayang-bayang
Fergie.






0 komentar:
Posting Komentar